Showing posts with label negri cintaku. Show all posts
Showing posts with label negri cintaku. Show all posts

May 22, 2009

Gotham City

Dimanakah kota kelelawar?

Apa yang terlintas di benak kita jika kita dilontari pertanyaan seperti itu? Mungkin akan terlintas dibenak kita Gotham City, tempat Batman beraksi. Atau somewhere di lembah Arizona, sebagaimana digambarkan dalam film thriller Bats.
Atau mungkin ada juga terlintas kota Soppeng.

Soppeng? Wattansoppeng? Mana itu? Why??

Yup... Soppeng atau lebih tepatnya Wattansoppeng, adalah kota kecil, yang menjadi ibukota kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Sangat tepat jika kota kelelawar adalah Gotham City di dunia nyata. Bukan fiksi.

Kota ini sangat unik, karena tepat ditengah kota, terdapat ribuan atau bahkan puluan ribu kelelawar bergelantungan. Anehnya lagi, kelelawar-kelelawar tersebut hanya bergelantungan di pohon asam sekitar masjid raya saja. Bukan ditempat lain. Dan jangan dibayangkan kelelawarnya kecil-kecil. Sebesar kucing-kucing bo....

Sejak kapan kelelawar-kelelawar tersebut mulai bersarang di pusat kota Soppeng tidak ada yang tahu dengan pasti. Menurut kesaksian orang-orang tua, kelelawar itu sudah ada sejak mereka kecil. Bahkan mereka juga mendengar bahwa orang tua mereka juga sudah hidup bersama dengan kelelawar-kelelawar tersebut. Jadi secara temurun warga Soppeng menjadi saksi adanya fenomena ini. Namun demikian dalam naskah-naskah tua, seperti lontara, tidak disinggung sama sekali tentang keberadaan kelelawar-kelelawar.
(sebagaimana kita ketahui bersama lontara adalah salah satu sumber sejarah yang menjadi rujukan jika ingin mempelajari "seluruh" Sulawesi Selatan pada masa lampau)
Bagi kita, orang luar Soppeng, mungkin aneh dengan keberadaan kelelawar tersebut. Namun bagi warga asli yang sudah sekian puluh tahun hidup bersama, kehadiran kelelawar tersebut menjadi hal yang biasa. Bau menyengat dan pekik kelelawar sudah tidak mengganggu lagi.

Bahkan jika kelelawar-kelelawar tersebut pergi dan tak kembali, warga di Soppeng justru takut. Pertanda buruk. Sesuatu bencana atau musibah akan datang ke kota Soppeng. Yach... mereka percaya bahwa kelelawar itu bukan kelelawar biasa.
Pernah pada tahun 1990an, kelelawar-kelelawar tersebut pergi dan tidak kembali lagi, karena salah satu pohon besar, tempat tinggal kelelawar, ditebang oleh pemda demi pembangunan kantor. Tak lama kemudian, kebakaran besar menghanguskan pasar sentral. Pusat ekonomi dan kehidupan kota Soppeng luluh lantak.
Kelelawar-kelelawar itu kembali ke Soppeng setelah diadakan upacara pemanggilan mereka.

Di kota-kota sekitar Soppeng juga beredar mitos, bahwa jika kita terkena kotoran kelewar itu, kita akan berjodoh dengan warga Soppeng. So kalo ada yang pingin cari jodoh orang Soppeng, berdiri saja dibawah pohon itu, sambil berharap dapat "rejeki" nomplok... yyyeaachh!!!

Sungguh beruntung sore ini aku sempat mampir di Soppeng, sehingga bisa share pemandangan luar biasa. Bersamaan dengan kumandang adzan Maghrib, lepas landas-lah ribuan kelelawar, meninggalkan sarangnya. Suara teriakan kelelawar yang berkeciap, menjadi senggakan bagi merdu kumandang adzan.

Yach.. kumandang adzan selalu mengiringi kepergian maupun kedatangan kelelawar Soppeng.
Maghrib mereka terbang, dan Subuh mereka pulang.
Kemana mereka pergi dan dari mana mereka datang tidak ada yang tahu secara pasti.
Mungkin mereka mengunjungi saudaranya di Gotham City sana...

Namun sayang, camera yang kubawa cukup jadul, dan cuaca agak mendung. Jadi mohon maaf, gambar tidak bisa terlihat dengan jelas.

Satu hal lagi yang mengundang tanya dalam benakku. Di pinggiran kota Soppeng banyak anjing berkeliaran di malam hari. Tampaknya liar tak bertuan.
Di kota yang terkenal Islami ini, mengapa banyak berkeliaran makhluk yang diharamkan yach??
Soppeng,
May 09

May 12, 2009

Senja Dibalik Jendela

Kantorku terletak tidak jauh dari pantai, hanya terpisah satu blok saja. Dan ruang kerjaku, terletak di lantai 3. Cukup tinggi untuk dapat memiliki pandangan yang lumayan luas dan lepas.

Dari balik ruang kerja aku dapat melihat luas laut yang terbentang. Di kejauhan tampak tanjung dengan perkampungan di ujungnya. Ujung Lero. Sebuah menara masjid berdiri menjulang di kejauhan.

Kapal-kapal nelayan bertaburan di kejauhan. Kadang kapal-kapal besar juga melintas. Memang yang terpampang di balik jendela ruang kerjaku adalah pintu gerbang menuju pelabuhan kota ini.

Pemandangan yang bisa aku jadikan tempat pelarian dari seabreg pekerjaan. Pelepas lelah mata setelah berkutat dengan layar laptop. Hiburan murah meriah... he..he..he.

Sore itu aku berdiri memandang lautan. Matahari mulai bergerak ke ufuk barat. Terus bergerak. Tenggelam.

Dari masjid di sebelah kantor berkumandang adzan Maghrib. Terdengar merdu, menghanyutkan diriku.... terdiam ..... merenung... dalam... dalam... semakin dalam...
Sungguh indah...

Allahu Akbar!! Allah Mahabesar!!

Surabaya, May 09

May 8, 2009

Gunung Nona

Jamrud Kathulistiwa.
Tak salah memang julukan itu diberikan kepada negeri ini. Memang indah mempesona alam Indonesia. Juga kaya raya. (tapi siapa yang menikmati ya??)
Setitik keindahan Gunung Nona di Bambapuang yang coba aku share di sini.

Bambapuang adalah desa yang terletak di Kab. Enrekang, Sulawesi Selatan. Jika kita akan ke Tana Toraja dari arah Makassar, tentu akan melewatinya. Cara mengenalinya mudah.
Selepas dari kota Enrekang ke arah Tana Toraja, kita akan melewati sederetan warung-warung di kanan jalan. Coba berhentilah di sana. Sambil menikmati minuman hangat kita bisa menyaksikan indahnya pemandangan Gunung Nona.

Nama asli Gunung Nona sebenarnya adalah Gunung Buttu Kabobong. Kata kabobong dalam bahasa lokal berarti "sesuatu yang selayaknya disembunyikan". Orang dari luar area, daripada susah susah menyebut Buttu Kabobong, lalu menyebutnya sebagai Gunung (maaf) Vagina.
Karena kurang enak di dengar, kemudian disebut sebagai Gunung Nona.

Sungguh beruntung aku punya kesempatan untuk menikmati si indahnya pemandangan Buttu Kabobong beberapa saat yang lalu.
Berikut ini sekelumit keindahan yang terekam:

(Hayo... siapa yang berimajinasi melihat kabobong??)

Imaginasiku melayang, seakan akan ada negeri di awan pada puncak bukit itu. Dan terbayang pada tebing-tebing di kejauhan. Seakan ada aroma mistis dibalik awan tipis yang menyelimuti. Gambaran awamku tentang Tana Toraja semakin memperkuat imaginasi itu.

Imaginasiku buyar ketika seekor burung terbang melintas. Tidak tahu pasti burung apa, mungkin elang. Tapi yang jelas tampak anggun dan gagah sekali dia membentangkan sayapnya diatas lembah-lembah dan tebing-tebing.




(pantas yach, banyak negara yang menggunakan burung perkasa ini menjadi lambang negara).

Tapi sayang sekali, sangat sedikit waktuku untuk menikmati si Nona yang satu ini. Karena aku harus segera ke Rantepao, dan mencoba menikmati sekilas keindahan Tana Toraja, dan malamnya harus sudah sampai di Palopo untuk ketemu seseorang.

Syukurlah bisa menikmati indahnya setitik jamrud disela sela tugas kantor.

-Kisah tentang Toraja dan perjalanan ke Palopo akan menyusul pada tulisan selanjutnya-

Enrekang - Tator

May 09