Showing posts with label me and my family. Show all posts
Showing posts with label me and my family. Show all posts

June 12, 2009

12 Juni 2001

Gak enak banget rasanya jadi sarjana nganggur. Aku pernah mengalami. Tidak benar-benar nganggur sih, ada project dikit dikit, tapi tetap saja kurang puas. Aku merasa tidak fully optimized.
Makanya setelah beberapa kali bolak-balik Jogja – Jakarta, untuk tes dan interview di pelbagai perusahaan, akhirnya aku dipanggil masuk ke salah satu perusahaan yang cukup terpandang. Wuih bangganya. Serasa dunia dalam genggaman. ”Oeyyy Jakarta, lihat aku datang. Akan ku taklukkan kau!!”

Aku berangkat merantau ke Jakarta naik kereta malam. Diantar Ibu, sepupu, dan tentu saja pacarku waktu itu. Sayang sekali Bapak tidak bisa mengantar. Padahal pada saat tes, beberapa kali aku sempat dibonceng oleh beliau ke statiun tugu.
Waktu pamit, Bapak menjabat tanganku. Erat. Erat sekali. Ada senyum bangga terlihat. Senyum yang sampai saat ini masih terus menyemangati. Senyum yang pada awal kedatanganku ke ibukota mampu membuat aku bertahan dan tetap berusaha menaklukkan Jakarta. Bapak waktu itu sudah sakit-sakitan. Beberapa kali sudah keluar masuk rumah sakit.
Malam itu 15 Maret 2001.

Aku segera bergelut dengan pekerjaanku. Untung sekali perusahaan ini dan orang-orang di dalamnya sangat welcome. Salah satu pekerjaanku waktu itu adalah supervisi survey lapangan, dan aku diberi kebebasan untuk mengatur jadwalku sendiri. Aku sengaja membuat jadwalku travelling ke kota-kota sekitar Jogja terlebih dahulu, agar bisa menyempatkan diri pulang ke rumah.

Sabtu, 9 Jun 2001
Aku singgah ke Jogja setelah dua hari bertugas di Madiun. Kondisi Bapak semakin parah. Nafasnya terasa berat. Badannya mengurus. Kulit yang biasa kencang mengikat tubuh gemuk Bapak, kini tampak mengendur. Dan keriputnya semakin dalam.
Walau dengan nafas tersengal, Beliau tetap saja meneguhkan aku.
”Ra pa pa, Bapak ora apa apa. Bapak apik apik wae. Mung butuh leren”
Dengan senyum yang aku paksakan, dan nafas kutarik dalam dalam, aku mengangguk pelan. Kelu. Tak bisa berkata apa apa.

Siang itu aku jagongan dengan pacarku di ruang tamu. Sementara Bapak tertidur di depan TV. Nafasnya semakin berat.
“Aghhh... Aghhh..” Kadang nafas Bapak seperti terhenti beberapa detik. Selang dari tabung oksigen menambah kalut pemandangan.
“Hah.....” Bapak terdengar seperti mengeluh.
Keluh yang selama ini tidak pernah aku dengar. Bapak yang aku kenal selalu nrimo, dan tidak pernah mengeluh.
”To....” Panggilnya.
”Nggih Pak”
”Tulung mbok aku dikeroki”
Dengan sedih aku keroki Bapak. Bapak selama ini tidak pernah mau menyusahkan orang lain. Minta tolong aku, anaknya pun hampir tidak pernah. Hanya ibulah yang menjadi tempat untuk direpoti. Tidak yang lain
Bapak ”mulai melepas dirinya” pikirku saat itu.

Minggu, 10 Jun 2001
Dalam doaku, aku bermohon
”Tuhan, terjadilah kehendakmu. Bukan inginku tapi kehendakMu. Hidup mati kami ada ditanganMu, sehat sakit kami ada di jariMu.
Tuhan kuserahkan semua ke dalam tanganMu”
Malam itu dalam gerbong kereta menuju Jakarta, aku benar-benar merasa berat meninggalkan Jogja. Meninggalkan Ibu seorang diri merawat Bapak yang sedang sakit keras.
Semula aku akan minta ijin tidak masuk karena kondisi ini. Tapi Ibu melarangku.
”Kamu ke Jakarta saja tidak apa-apa. Jangan sedih. Itu bagus buat psikis Bapak”
OK.
Ibu yang paling tahu Bapak. Betapa psikis Bapak akan semakin terkoyak jika melihat aku tidak ke Jakarta hanya untuk menunggui Beliau. Yah... ”Diri” Bapak akan semakin menderita jika aku sedih melihat dia. Aku harus tegar. Aku harus ke Jakarta.

Senin, 11 Jun 2001.
Hari Senin, seperti biasanya kerjaan kantor cukup banyak. Ditambah tidur yang sangat kurang di kereta semalam, membuat badanku terasa sangat lelah. Apalagi ada rasa gundah di hati.
Jam 21.30 aku sudah terkapar.
”Tuhan kuserahkan hidup kami...” ujarku lirih sebelum terlelap.
Jam 23.30an HP-ku berbunyi.
Kudengar suara Ibu dalam isak yang tertahan,
”Bapak kritis, tolong bantu Bapak dan Ibu dengan doa. Temani Ibu berjaga”
”Semua akan baik baik saja. Tolong bantu dengan doa saja”
”Jangan-jangan! Kamu jangan pulang. Cukup dengan doa”. Tetap saja Ibu melarang aku menengok Bapak yang sedang kritis.
Aku coba menyalakan lilin, dan berdoa.
Tapi dasar badan lelah banget, aku tidak sanggup berdoa lama lama. Apalagi berjaga. Doa singkat yang aku ucapkan berulang tiba tiba hilang. Entah kapan aku terlelap. Yang jelas ketika aku buka mata, hari telah pagi.

Selasa, 12 Jun 2001
Jam 10.00an aku di-call pacarku. Deg!!! Pasti ada kabar penting. Tidak biasanya dia menelpon jam segini.
”Mas, pulang, Bapak kritis” katanya singkat.
”Mas... Mas, dililake ya...” ujarnya lirih.
”Bapak tilar?” tanyaku pelan.
”Dililake ya.....”
Telepon aku tutup.
Aku tertunduk di meja. Jemariku saling bertautan menyangga kepadalu. Air mata menggenang. Aku tarik nafas dalam dalam.
”Ibu Mel, saya ijin pulang. Bapak seda” ujarku ke atasanku.
Tak lama kemudian kakaku menelpon.
”Wis dikabari?”
”Wis”

”Sing tabah ya... kita ketemu di bandara”
”OK, ketemu di bandara”
Singkat saja telepon kakakku. Ada hati yang menjerit terdengar dalam suaranya. Suara kami tepatnya.

Aku dan kakak hanya bisa berpelukan di bandara. Diam. Tetap diam. Tak berkata apa apa. Hanya saling berpelukan, dan menepuk punggung. Air mata berlinang. Sedikit sesenggukan. Pelukan paling erat dari kakakku yang pernah aku rasakan.
Setiba di Adisucipto, kami segera menuju RS Panti Rapih. Beberapa kerabat sudah berkumpul. Ibu berdiri. Melangkah sedikit ke depan. Hanya dua langkah barangkali. Memeluk aku. Memeluk kakaku. Tiada kata yang terucap. Semua kelu, tak berkata apa apa. Ibu menggandeng kami, menuntun kami menuju ke peti jenasah Bapak.

Dalam isak yang sempat mencuat dari ketegaran hatinya, Ibu berujar.
“Deloken kuwi. Bapak mesem”
-Lihat itu. Bapak tersenyum-
Sebuah senyum terlihat tersungging di bibir Bapak.
“Apik, kabeh wis apik!”
“Sedane Bapak apik banget”


Setelah kami duduk, baru Ibu bercerita betapa indahnya kematian Bapak. Betapa tenangnya Bapak pergi.
Sungguh dua kalimat penghiburan luar biasa yang aku rasakan saat itu. Kalimat pendek saja, tapi sungguh menenangkan.
“Apik, kabeh wis apik”
“Deloken kuwi. Bapak mesem”


Terima kasih Bapak, sudah menunggui dan mengantarku aku sampai dapat pekerjaan yang aku harapkan.
Nyuwun pangapunten dereng saged bales punapa punapa


ini adalah satu satunya foto yang pernah masuk ke dompetku,

dan slalu aku bawa kemanapun sampai saat ini



Makassar, 11 Jun 2009

Dalam kenangan akan
Ignatius Wibawadjati, terlahir Oey Hong Tay
25 Des 1938 – 12 Jun 2001

June 9, 2009

Sosis

Tadi pagi, entah kenapa, aku tiba tiba melo banget. Tiba tiba saja, kenangan akan Bapak semakin kuat. Ini pasti gara gara FB-nya Djeung Lala. Tapi emang sih.. setiap Juni, kenangan itu pasti datang.

It’s OK.

Ini adalah pengalaman manis tentang koki handal yang sempat aku sempat aku singgung sedikit pada bagian akhir tulisan ini. Koki itu adalah bapakku sendiri. Dan resep istemewanya adalah SOSIS. Heemmmm nyam.

Keluarga kami bukanlah keluarga yang berkelimpahan. Cukup saja. Kalo orang bilang kelas menengahlah. Jadi jangan heran kalo sosis merupakan makanan yang cukup jarang kami nikmati.
Pernah suatu kali, Pakdhe dan Budhe datang dari Solo, untuk mengajak kami jalan jalan ke Borobudur. Sebelum ke Borobudur, kami sempat mampir ke Depot SS, di perempatan Jl. Magelang. (sayang depot itu sekarang sudah tidak ada lagi)
Dan menu yang kami santap adalah... sosis. Benar-benar terasa waktu lezat itu. Kalo om Bondan bilang "mak nyussss... "
Aku sangat menikmatinya dan lahap tentu saja. (mungkin waktu itu Bapak melihat dengan miris, wah anakku kok benar-benar kalap gini)

Waktu berlalu, sampai tiba-tiba ibu mengajakku ke pasar, tempat Bapak menggelar barang-barang second hand-nya. Memang kadang aku mampir ke pasar, tapi kok ini tumben tumbennya Ibu mengajak khusus ke sana. Kami naik becak ke pasar. Sesampai di pasar, ternyata Bapak sudah membeli beberapa gulung usus kering, bahan pembuat kulit sosis. Wow... besar banget & panjang. Persis seperti yang di depot SS. Selain itu ada juga sebongkah daging cincang. Hemmmm bakal makan enak neh :-)
Trus Bapak memberikan ibu catatan kecil. Resep rahasia rupanya. Setelah itu aku dan ibu pergi ke toko yang telah ditunjukkan oleh Bapak. Lumayan juga jalan kaki ke toko itu. Pasar Beringharjo – Pajeksan. Aku tidak tahu namanya, tapi bentuknya bubuk berwarna coklat.

Setelah sampai dirumah, segera ibu mempersiapkan bumbu bumbu sesuai dengan catatan Bapak. Lama sekali rasanya menunggu Bapak pulang. Akhirnya suara khas itu datang. Suara yang seperti menyapa "Bapak pulang..." Suara yang tercipta dari bercumbunya stang sepeda onthel dan tempat minum alumunium (itu tuh... tempat minum yang biasa dipakai tentara). Aku bergegas membuka pintu.
Setelah istirahat sejenak, masuklah sang koki ke gelanggang pemasakan. Ibu bertindak sebagai assisten koki. Kurang topinya aja neh... :-p
Bumbu bumbu diulek dan disatukan. Daging cincang, dicincang lagi. Setelah itu daging cincang itu diuleni dengan bumbu. Ditambah kecap sedikit, dan diuleni lagi. Hemmmm berbayang nikmatnya sosis di depot SS.
Setelah semua siap, mulailah daging cincang berbumbu rahasia ayah mulai dimasukkan ke usus. Usus yang sebelumya berisi angin, pelan pelan berisi daging. Tak lupa aku ngrusuhi Bapak dan Ibu. Ingat, ngrusuhi ya, bukan membantu. Kakak juga nimbrung di dapur. Seru!! Aseek juga masak rame rame di dapur.
”Eeeitt.. ett.. eettt!!” seru Bapak ketika ususnya terkoyak dan isinya terburai keluar. Sementara kami hanya bisa memandang dengan geli.

Akhirnya malam itu kami makan besar. Sosis special racikan Bapak. Tentang rasa, jangan ditanya. Depot SS juga lewat. Jauuuhhh...
Dan menurutku, sosis itu terasa lebih mak nyus karena prosesnya. Karena reriungan dan canda di dapur. Karena empet empetan kami berempat di dapur yang kecil, apalagi sambil ngrubungi senampan kecil daging cicang berbumbu itu. Terasa nikmat sekali.

Paginya kami makan sosis lagi, siang sosis lagi, sore masih sosis lagi. Keesokan harinya lagi, masih makan sosis. My lovely father, he was a great chef.

Pare Pare, Juni 09

May 26, 2009

Pret...Cepret... Potret

Pret... Pret... Cepret..
Bunyi khas kamera membawaku pada kenangan pada tahun 80an, ketika aku masih SD. Pada pertemuan keluarga besar, alias pertemuan Trah Karijapijoga di Muntilan, saat itulah pertama kali aku menekan tombol kamera. Pret... seiring kilatan lampu blitz yang menyala.
Hanya satu cepretan saja, namun cukup menjadi gerbang bagiku untuk masuk hobby yang satu ini. Fotografi.

Dengan sangat antusias, aku mencoba mendeskripsikan apa yang sempat aku jepret dengan kamera kepada Bapak. "Pasti OK Pak, penarinya sedang mengangkat kaki, selendangnya melambai gagah..." Demikianlah kurang lebih penggambaran yang aku berikan ke Bapak sepanjang perjalanan pulang. Bapak menanggapinya dengan serius sambil tersenyum simpul. "Kita lihat hasilnya nanti yach.."

Eng ing eng.. dua atau tiga hari kemudian, Bapak pulang sambil membawa hasil dokumentasi pertemuan trah. Tentu saja setelah filmnya dicuci cetak. Ups... apa yang terjadi....
PANTAT.. man!!!
Yach penari yang dengan gagah telah aku deskripsikan ternyata bagian belakang tubuhnya saja yang tampak... Lambaian selendang hanya tinggal kenangan karena yang terpampang adalah seonggok kain nglemprek.
"Lain kali latihan lagi ya...." hibur Bapak waktu itu.

Beberapa tahun kemudian, ayah sudah berani memberiku "pegangan" kamera untuk menyalurkan hobby. Dan mereknya adalah... Argus!!! What..!!! Kamera apa tuh.. ? Nama yang baru aku kenal pada saat menerima kamera dari Bapak. Bukan kamera baru, tapi kamera bekas. Tapi lumayanlah, sudah memegang kamera sendiri. Hasilnya lumayanlah untuk seorang anak SD.

-sayang saat ini hasil jepretan masa kecilku belum bisa aku share disini... maklum semua dalam bentuk hard copy, dan masih tersimpan di Jogja... belum di-scan -

Fotografi memang merupakan hobby yang cukup mahal (bahkan sampai saat ini masih terasa mahal), apalagi dulu semua harus dicetak jika ingin lihat hasilnya, tapi untung sekali Bapak sangat mensupport hobby itu.
Sebagai penjual barang bekas alias loakan di pasar Beringharjo, Bapak sering mendapat kamera atau lensa bekas yang kondisinya masih cukup OK. Sebagai pedagang mungkin Bapak cukup "aneh". Jika mendapat barang bagus, Bapak tidak menjual lagi supaya mendapat untung besar, tapi justru dibawa pulang. He..he..he.. tentunya aku dan Mas Edo yang senang.

Selain kamera Argus itu, selanjutnya aku diberi pegangan beberapa kamera yang lain, aku tidak hafal dengan pasti.. Maklum lumayan banyak kamera yang sering aku pakai, lha wong pada dasarnya adalah dagangan Bapak di pasar. Yang aku ingat sih, pernah apakai Canon, Olympus, dan yang paling lama aku pegang adalah Nikon FM-2. Kadang juga memakai Nikon F-2 jika sedang tidak dipakai Bapak atau kakak. Dan semuanya tentu saja... bekas.

Karena merupakan hobby yang cukup mahal, saat SMA & kuliah, seringkali aku ikut dalam kegiatan sekolah/kampus, tentus saja dengan spesialisasi Sie Dokumentasi. He..he... menyalurkan hobby mumpung dibayari.
Namun sejak mengerjakan tulisan akhir dan bekerja hobby itu terhenti sama sekali. Maklum mesti hijrah ke Jakarta, dan semua kamera aku tinggal di Jogja. Lama tak pegang kamera. Tidak punya.

Setelah sekian lama menabung, akhirnya pada tahun 2007 awal, aku bisa membeli kamera sendiri. Meskipun kamera ecek-ecek, tapi suerrr.. itu satu satunya kamera yang pernah aku beli. Setidaknya sampai saat ini. Waktu itu sebenarnya ingin beli yang lebih OK, tapi karena keuangan terbatas yach terpaksa harus berkompromi situasi yang ada. Lumix FZ50 cukuplah..

Bicara hasil jepretan... wah masih jauh dari yang diidam-idamkan. Beberapa sudah sempat aku share di sini, just dokumentasi saja kan? Kalo mau mencari nilai seni atau artistik dan sebagainya.... nanti dulu lah. Masih jauh.
Berbeda dengan kakakku, Mas Edo. Lumayan bisa dinikamatilah karyanya. Apalagi didukung dengan hobby-nya ber-back packer ria bersama sang istri, mbak Tita. Klop dah... Kemampuan foto OK, object OK. Hasilnya (menurutku) OK OK banget.

Yach.. jeprat jepret dengan kamera alias fotografi adalah "satu-satu darah" yang mengalir dari Bapak dalam diri kami berdua. Aku dan Kakakku.
Tradisi leluhur Bapak... blank, tidak tahu sama sekali.
Darah dagang... hmmmm nanti dulu.
Darah masak memasak.... eit.. itu sama sekali tidak mengalir dalam darah kami.

Pare Pare
May 09

May 19, 2009

Time Out

Waktu SMA, aku kadang iri dengan teman-temanku yang bisa bercanda, dan bermanja-manja dengan ibunya. Ih.. kenapa aku tidak bisa.
Ini pasti karena Ibu sibuk dengan pekerjaannya.

Tapi sekarang iri itu menjadi syukur tak terhingga, ketika aku melihat sekelilingku. Betapa banyak bayi yang masih sangat kecil telah ditinggal kerja oleh kedua orang tuanya. Baru 3 bulan sudah ditinggal.
Syukur banget aku masih ditunggui oleh ibu, meskipun hanya sampai kelas 2 SD.

Terkenang indah ketika aku disuapi ibu sambil dibacakan buku.
Atau ketika terayun ayun di boncengan sepeda "jengky" biru yang udah butut ketika diantar jemput Ibu waktu TK dan kelas 1 SD. Oh indahnya...
Indah bagiku.. tapi mungkin ngos-ngosan buat Ibu. Lha wong lumayan jauh je ... 4-5 km di terik matahari.

Terima kasih Ibu, karena telah rela keluar dari pekerjaanmu waktu itu.

Ibu ketika gadis adalah seorang perawat di salah satu RS di Jogja.
KetikaIbu memutuskan untuk menikah dengan Bapak, dengan rela Ibu keluar dari pekerjaannya.
Ibu mengandung kakakku, satu setengah tahun setelah pernikannya.
Setelah kakakku lahir, kemudian menyusulah diriku ini dikandung Ibu tiga tahun kemudian.

Ketika aku kelas 1 SD, Ibu mulai sering bermimpi bertemu dengan teman-teman sekerja dulu. Teman sekerja, sekaligus teman seangkatan, sekaligus teman seasrama. Karena memang Ibu lulusan sekolah perawat yang mengharuskan Beliau untuk tinggal di asrama.
Yach.. yang diceritakan padaku, mimpi itu hadir setelah aku kelas 1 SD.
Tapi bisa jadi sejak Ibu keluar dari pekerjaannya mimpi itu telah hadir.
Dalam mimpinya, Ibu bertemu teman-temannya dan mereka mengajak Ibu untuk gabung kerja lagi.

Maka setelah aku dianggap cukup besar dan bisa ditinggal, kelas 2 SD, Ibu kembali menjadi perawat. Di rumah sakit yang sama.
Teman-temannya telah banyak yang menjadi kepala unit, atau perawat senior. Ibu kembali menjadi perawat dari nol. Dengan tekhnologi kedokteran yang sudah cukup jauh di depan jika dibandingkan ketika Ibu keluar.

Meski menjadi perawat, Ibu tidak meninggalkan kewajibannya sebagai ibu. Semua kebutuhan telah disiapkan oleh Ibu sendiri. Tanpa asisten sama sekali.
Pagi-pagi sekali Ibu menghangatkan makanan yang sudah dimasak pada malam sebelumnya.
Pakaian juga telah disetrika dengan rapi. Rumah telah dibersihkan.
Luar biasa Ibu....

Saat ini Ibu telah pensiun sebagai perawat RS itu, namun masih terus menjadi asisten di praktek dokter setiap Senin, Selasa dan Sabtu.
Dokter tersebut cukup kondang di Jogja dan banyak pasiennya, sehingga kadang di usia senjanya Ibu harus pulang jam 23.00 bahkan lebih. Sampai saat ini peran ibu di tempat dokter itu belum tergantikan. Karena Ibu adalah satu-satunya perawat di situ yang bisa nyontik bayi dengan baik.
Semua dijalani dengan senyum. Senyum yang sama dengan apa yang aku lihat waktu kanak-kanak dulu. Oh, betapa teduhnya senyum itu...
Dan masih.... Ibu tidak mau ditemani asisten untuk mengurus rumah.

Terima kasih Ibu untuk semuannya.
Untuk semua pengorbanan ketika engkau mengambil "time out" dari pekerjaanmu. Time out yang cukup panjang, 12 tahun. Demi bisa menjagai aku dan Mas Edo.

ups... berkaca-kaca neh waktu nulis

Matur nuwun ibu..
Sembah sungkem kula..
Nyuwun pangapunten asring damel ibu repot, sebel lan duka
Nyuwun sewu, dereng saged paring menapa menapa

Palopo,
May 09

April 30, 2009

Admiral & Marsekal

"Keluarga dari Angkatan ya Pak?" kata Pak Polisi yang sedang melakukan pemerikasaan
"Wah nama Marsekal-nya selalu pindah ke depan Pak, jadinya Marsekal A..W.. " kata teller sebuah bank swasta ketika aku akan membuat bank account
"Apa ada hubungan sama Laksamana Sukardi?" tanya orang yang baru saja menerima kartu namaku

Itulah beberapa reaksi ketika orang melihat nama tengahku. Marsekal

Kata Admiral & Marsekal merupakan pangkat dalam jenjang kemiliteran di angkatan laut dan angkatan udara. Setera dengan Jenderal di angkatan darat. Di negara kita pangkat Admiral tidak dipakai, tapi menggunakan Laksamana.

Tapi bukan itu yang mau aku ceritakan. Admiral & Marsekal di sini adalah nama tengah. Admiral nama tengah kakakku sedangkan aku mempunyai nama tengah Marsekal. Jadi nama kakakku adalah E Admiral Wibawa, dan namaku A Marsekal Wibawa. Kalo nama belakang Wibawa tentu bisa ditebak itu adalah nama bapak.

Admiral & Marsekal.
Bukan nama yang biasa dipakai oleh orang.
Bapak juga tidak pernah bercerita mengapa kami menyandang nama Admiral dan Marsekal. Baru pada tahun 2001, aku mendapat setitik info mengapa nama kami Admiral dan Marsekal dari Budhe (kakak Bapak).

Budhe bercerita, bahwa Bapak pada masa mudanya pernah mendaftar menjadi anggota KKO di Surabaya. KKO adalah satuan elite AL, sekarang Marinir lah. Waktu itu tidak diterima. Yach... impian untuk menjadi Angkatan Laut tertutup
Setahun kemudian Bapak mendaftar menjadi anggota AURI di Bandung. Serangkaian test telah dilalui dan lolos. Tes kesehatan juga sudah lolos, tinggal tunggu 1 tes terakhir.
Bapak kemudian berkonsultasi dengan penasehat spiritualnya (yang pasti bukan dukun ya...)
Penasehat itu menyarankan untuk tidak melanjutkan karena ayah adalah satu satunya pria dalam keluarga. Bapak hanya mempunyai 1 kakak wanita (ya... budhe yang menceritakan kisah ini). Sebagai penganut patriarki, Bapak adalah satu satunya penerus keturunan keluarga. Dan menjadi militer akan memperbesar kemungkinan untuk meninggal dalam usia muda.
(ada korelasinya gak sih...??)
So dengan pertimbangan itu Bapak tidak melanjutkan cita-citanya untuk masuk AURI

Nah... ini mungkin yang membuat kakakku bernama tengah Admiral dan aku Marsekal. Aku tidak sempat mengkonfirmasikan hal ini ke Bapak, karena Budhe cerita beberapa saat setelah pemakaman Bapak.

Pare Pare
April 09

April 29, 2009

Nasehat Bapak

Bapak...


Salah satu hal (dari sekian banyak hal) yang selalu kuingat dari Bapak adalah kemauan dan kemampuannya untuk memberi contoh perilaku, bukan nasehat yang panjang. Sangat jarang Bapak mengungkapkan dengan tutur "nasehat" apa yang terkandung dari kebiasaan atau langkah hidup yang diambilnya.

Beliau membiarkan kami melihat sendiri contoh nyata.
Bahkan beberapa NASEHAT baru aku pahami setelah Bapak berpulang.

Mungkin ini yang biasa disebut orang sebagai keteladanan... (wow.. kok kayaknya tinggi banget ya.. keTELADANan).
Aku sendiri lebih suka menyebutnya sebagai "nasehat"

Ketika aku masih SD, tahun 1984 kalau tidak salah, aku masih sangat susah untuk disuruh belajar.... maklum masih anak-anak.
Kebetulan waktu itu dicanangkan program UT, alias universitas terbuka.

Dengan sangat antusias, Bapak mengikuti program tersebut, walau secara usia beliau telah 46 th. Untuk apa ikut UT pada usia tersebut?
Untuk mencari gelar S1 yang belum sempat Bapak sandang? Bukan
Untuk mencari pekerjaan baru atau peningkatan gaji dengan gelarnya? Juga bukan. Sebagai penjual barang loak di pasar, tentu gelar akademis tidak diperhitungkan sama sekali
Untuk gagah gagahan? Tentu bukan juga

Untuk memberi CONTOH bagiamana saya harus belajar. Yup itu jawabannya. Beliau menasehati kami anak-anaknya untuk belajar, dengan cara Bapak sendiri juga belajar. Dengan demikian Bapak mempunyai "legitimasi" untuk menyuruh kami belajar, karena setiap malam Bapak juga belajar.
Bukan hanya menyuruh saja dengan kata-kata panjang, dan nada tinggi, sementara mata terpaku pada televisi.
Dengan demikian aku dan kakakku tidak kuasa menolak ajakan untuk belajar.
Oh ya, satu lagi mengenai status "kemahasiswaan" Bapak. Sampai Bapak meninggal Bapak tidak pernah mencapai gelar S1-nya. Aktivitas belajar di UT tersendat karena katarak. Status terakhir cuti sebagai mahasiswa.
Setelah itu tidak dilanjutkan lagi, karena kami, aku dan kakakku, sudah cukup besar dan bisa belajar sendiri tanpa disuruh-suruh lagi.


Itu baru salah satu contoh.
Masih banyak yang lain, misalnya Bapak tidak merokok sehingga bisa melarang kami untuk tidak merokok (meskipun sekarang aku bergelut dalam industri ini)
Hal kecil lainnya adalah Bapak tidak pernah mengeluh mengenai masakan apapun yang dimasak oleh Ibu. Enak - tidak enak, suka - tidak suka, Bapak selalu makan dengan lahap.
Nah.. kalo yang ini punya efek samping pada diriku. Karena "nasehat" seperti itu, saat ini aku melakukan hal yang sama... sehingga pantaslah kalo diriku "sedikit" tambun.

Itulah salah satu kenangan akan Bapak.
Beliau selalu memberi NASEHAT kepada kami dengan hidupnya sehari hari.

Makassar, 29 Apr 09
- dalam kerinduan kepada Ign. Wibawadjati -